sinis dan tabah membuka tirai persahabatan yang membara. Dinding yang membatasi keduanya untuk bertemu akhirnya terjawab karena janji yang mereka sepakati dengan alasan kelak kita akan bersatu itu andai kau setia, sehati dan sejiwa, jauh di sudut hatiku engkau yang satu. Dalam wangian coretan tinta, Rangga mengatakan hal yang sama terhadap Vini karena kedua orang tersebut berpengaruh penting dalam kehidupannya. Apabila pandangan pertama dari wajah Vini dan Renal seperti benih yang ditaburkan cinta ke dalam tanah sebuah hati dan ciuman pertama dua bibir adalah seperti bunga pertama pada cabang kehidupan, maka penyantun adalah buah pertama dari bunga pertama yang berasal dari benih. Penantiannya yang panjang membawa kado yang indah buat rangga, dalam keraguannya ia merasa dan dalam keyakinannya ia bersanksi, antara cinta dan cita - cita jiwa terasa belum tersedia, tak ke laut nahkoda bersama yang dibawa andai kapal ada tiada layarnya. Tapi semua halangan meronta dan di kelilingi hidup yang hanya menekan. Keraguan menghantui jiwanya dalam meniti kepastian, kasih dan sayang, cinta dan rindu tersemat di titik hatinya. Usah biar kecewa membalut luka, Rangga buktikan kejujuran cinta. Perjalanan hidupnya berubah karena Vini dan Renal, mereka sememangnya yang Rangga sayang karena dahulu Rangga dan Vini bersama melangkah kaki mengarungi taman - taman asmara, percintaanya berakhir menjadi debu, semuanya menjadi sepi dan semakin ketara karena panggilan Tuhan. Hembusan angin pantai menyapa kedua sahabat itu disaat duduk berdampingan di pesisir, terdengar suara ombak bergemuruh bersamaan dengan kicauan burung di angkasa,